Gue baru aja selesai nonton film. Bukan di bioskop. Bukan di kursi yang dipesan online. Bukan dengan popcorn harga selangit. Tapi di rumah teman. Proyektor seadanya. Layar tembok. Sofa dan bantal di lantai. Selimut karena AC nggak sekuat bioskop. Cemilan patungan. Kita duduk berdampingan. Kita ngobrol. Kita tertawa. Kita menangis bersama. Kita berdiskusi setelah film selesai. Dulu, gue pikir bioskop adalah pengalaman. Dulu, gue pikir layar gede dan suara surround adalah yang terbaik. Dulu, gue nggak keberatan bayar mahal. Dulu, gue nggak keberatan duduk berdempetan dengan orang asing. Dulu, gue nggak keberatan nggak bisa ngobrol selama film. Sekarang? Sekarang gue milih cinema gathering. Nonton di rumah teman. Proyektor kecil. Suara biasa. Tapi ada teman. Ada obrolan. Ada tawa. Ada berbagi. Ada interaksi. Ada sesuatu yang nggak bisa diberikan oleh bioskop. Pengalaman yang personal. Pengalaman yang sosial. Pengalaman yang manusiawi. Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin kuat. Cinema gathering. Generasi muda—18-35 tahun—lebih memilih nonton film di rumah teman daripada di bioskop. Bukan karena mereka anti-bioskop. Bukan karena mereka nggak suka layar gede. Tapi karena mereka rindu. Rindu pada interaksi sosial. Rindu pada pengalaman yang dibagikan. Rindu pada obrolan setelah film. Rindu pada sesuatu yang semakin hilang di bioskop modern: kebersamaan. Cinema Gathering: Ketika Generasi Muda Memilih Berbagi Layar Gue ngobrol sama tiga orang yang memilih cinema gathering. Cerita mereka: rindu kebersamaan, lelah dengan individualisme. 1. Dina, 24 tahun, yang dulu …