Lo tahu nggak sih, gue punya temen yang setiap kali nonton film Safdie Brothers, abis itu harus duduk diam 10 menit di lobi bioskop. Katanya, buat ngebikin detak jantungnya balik normal.
Gue kira dia lebay. Sampai akhirnya gue nonton Uncut Gems.
Dan sekarang, Josh Safdie—kali ini tanpa Benny—balik lagi dengan Marty Supreme. Filmnya Timothée Chalamet yang dalam beberapa minggu terakhir memenuhi timeline sosmed gue. Yang jelas, dari trailernya aja udah keliatan: ini bakal kacau. Tapi kacau dalam artian bagus. Mungkin.
Nah, 25 Februari 2026 nanti, film ini resmi tayang di bioskop Indonesia . Dan karena gue udah keburu kepo setengah mati (plus kebetulan dapet akses early screening dari temen yang kerja di distributor), gue bakal kasih lo review awal. Bukan review biasa. Tapi panduan menonton buat menikmati kekacauan yang sengaja diciptakan Safdie.
Karena percaya deh, ini bukan film yang bisa lo tonton sambil main HP.
Sekilas: Apa Itu Marty Supreme?
Marty Supreme adalah drama komedi biopik—tapi tidak sepenuhnya biopik—yang terinspirasi dari Marty Reisman, pemain pingpong legendaris Amerika tahun 1950-an . Timothée Chalamet berperan sebagai Marty Mauser, seorang penjual sepatu ambisius yang bermimpi jadi juara dunia tenis meja .
Tapi jangan keburu mikir ini film olahraga biasa. Karena Safdie nggak pernah kerja biasa.
Film ini udah mengamankan 9 nominasi Oscar 2026, termasuk Best Picture, Best Director buat Josh Safdie, dan Best Actor buat Chalamet . Bahkan, Chalamet sekarang jadi aktor termuda yang berhasil meraih tiga nominasi akting Oscar sejak Marlon Brando tahun 1954. Keren, kan?
Secara box office, film ini juga sukses besar. Udah meraup US$151,8 juta secara global dan resmi jadi film A24 terlaris sepanjang masa, ngalahin Everything Everywhere All at Once . Lumayan buat film durasi 2 jam 29 menit tentang… main pingpong.
Tapi seperti yang bakal gue jelasin, pingpong di sini cuma kemasan.
Yang Bikin Marty Supreme Berbeda: Kekacauan yang Direncanakan
Gue pengen mulai dari sini. Karena ini inti dari semuanya.
1. Period Piece Tapi Nggak Mau Diatur
Ini yang bikin gue pertama kali nonton agak… bingung. Sekaligus kagum.
Setting-nya tahun 1950-an. Lo bakal liat kostum era itu, desain produksi yang detail banget, dan atmosfer New York jadul. Tapi musiknya? Musik tahun 80-an dan skor elektronik . Iya, lo baca bener. Adegan di tahun 50-an, lagunya dari era 80-an.
Gue sempet mikir, “Ini salah urutan ya?” Tapi ternyata sengaja.
Josh Safdie nggak mau bikin film period yang kaku. Dia mau bikin sesuatu yang terasa hidup, bahkan kalau itu berarti ngacak-acak ekspektasi kita. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba lo denger lagu yang nggak sesuai zaman. Itu fitur, bukan bug.
2. Karakter Utama yang Sulit Disukai (Tapi Lo Nggak Bisa Lepas)
Marty Mauser itu… menyebalkan. Jujur aja.
Dia egois, impulsif, sok tahu, dan rela mengorbankan apa pun—termasuk orang-orang terdekatnya—demi ambisi. Tapi anehnya, lo nggak bisa berhenti nonton. Ada karisma tertentu yang bikin lo tetap peduli meskipun lo tahu dia bakal bikin keputusan bodoh.
Ini pola khas Safdie. Dulu di Uncut Gems, Howard Ratner juga gitu. Lo benci dia, tapi lo nggak bisa lepas dari energinya.
Salah satu adegan paling berkesan buat gue adalah ketika Marty ngomong ke karakter Kevin O’Leary (yang main sebagai pengusaha kaya raya) dengan nada sok tahu khas anak zaman now. Beberapa kritikus nyebut ini sebagai momen “ok boomer” versi sinematik . Dan itu lucu sekaligus bikin geleng-geleng.
3. Casting yang Nggak Masuk Akal (Tapi Berhasil)
Coba lo liat daftar pemainnya:
- Timothée Chalamet (udah jelas)
- Gwyneth Paltrow (balik lagi setelah pensiun)
- Tyler, the Creator (ya, penyanyi itu)
- Kevin O’Leary (yang dari Shark Tank!)
- Fran Drescher (Si Nanny dari The Nanny)
- Abel Ferrara (sutradara film indie yang jadi aktor)
- Penn Jillette (pesulap)
Ini kayak campuran acak dari dunia entertainment. Tapi entah gimana caranya, Safdie bisa ngeracik mereka jadi sesuatu yang koheren. Tyler, the Creator misalnya, main sebagai temen Marty yang bantuin dia ngelakuin aksi penipuan kecil. Dan dia… aktor yang lumayan bagus? Who knew.
Gwyneth Paltrow juga jadi kejutan. Dia main sebagai aktris tua yang menjalin hubungan dengan Marty. Adegan-adegan mereka awkward sekaligus mengharukan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, gue lupa kalau itu Gwyneth Paltrow—yang ada cuma Kay, karakter yang dia mainkan.
3 Adegan yang Bakal Lo Ingat Terus
Gue bakal kasih tiga contoh spesifik. Tanpa spoiler berat, tapi cukup buat gambarin apa yang bisa lo harapin.
Adegan #1: Kekalahan Pertama di Jepang
Ini adegan awal yang nentuin segalanya. Marty datang ke Jepang dengan percaya diri gila-gilaan. Dia pikir bakal gampang menang. Terus dia ketemu Koto Endo (Koto Kawaguchi), pemain Jepang dengan grip aneh dan bet inovatif.
Yang bikin adegan ini luar biasa bukan cekcoknya. Tapi kamera kerja Darius Khondji yang bikin setiap pukulan bola kerasa kayak pukulan ke ulu hati. Lo bisa ngerasa frustrasinya Marty. Dan pas dia kalah, lo ikut ngerasa hancur. Padahal lo tahu dia sih yang terlalu sombong.
Adegan #2: Scene Hutan yang Mengganggu
Ini adegan yang paling gue inget sampai sekarang. Tiba-tiba, di tengah film yang hectic dan kacau, ada flashback singkat ke masa Holocaust .
Seorang tahanan Yahudi—yang terinspirasi dari pemain pingpong nyata Alojzy Ehrlich—nemu sarang lebah di hutan. Dia mengolesi tubuhnya dengan madu, dan membiarkan sesama tahanan menjilat madu dari tubuhnya. Demi bertahan hidup. Demi berbagi.
Adegan ini cuma beberapa menit. Nggak dijelasin panjang lebar. Tapi gue di bioskop waktu itu, seluruh penonton diem. Nggak ada yang batuk. Nggak ada yang gerak. Karena kita semua ngerasa sesuatu yang susah dijelasin: tentang bertahan hidup, tentang memberi, tentang martabat di tengah kehancuran.
Dan lo sadar, Safdie nggak cuma bikin film tentang pingpong. Dia bikin film tentang sejarah, tentang identitas, tentang apa artinya jadi orang Yahudi di Amerika pasca perang. Marty bilang di satu adegan bahwa dia “kebal” karena dia adalah “nightmare-nya Hitler” . Kedengeran sombong? Iya. Tapi setelah adegan hutan itu, lo ngerti darimana kesombongan itu berasal.
Adegan #3: Akhir yang Nggak Memberi Kemenangan
Spoiler ringan: di akhir, Marty menang turnamen besar. Tapi kemenangan itu terasa… kosong.
Gue nggak akan kasih detail. Tapi Safdie dengan cerdik ngebangun ekspektasi kita bahwa kemenangan adalah segalanya. Lalu di menit-menit terakhir, dia kasih lihat sesuatu yang bikin kita bertanya: “Emang iya semua ini worth it?”
Seperti kata kritikus Vigh Martin, “Marty pada akhirnya meraih apa yang dia kejar, tapi nggak ada katarsis. Seolah dia sendiri nggak bisa menikmatinya” . Momen paling bahagia dia justru di akhir, saat jauh dari sorotan kamera dan ambisi.
Data dan Angka: Kenapa Ini Penting
Buat lo yang suka data, gue kasih beberapa angka:
- Durasi film: 149 menit (2 jam 29 menit)
- Rating usia: 16+ (karena konten seksual, kekerasan, dan bahasa kasar)
- Box office global: US$151,8 juta (per 19 Februari 2026)
- Nominasi Oscar: 9, termasuk Best Picture, Best Director, Best Actor
Yang menarik, dari 9 nominasi itu, termasuk kategori baru Best Casting . Dan itu masuk akal banget, karena casting film ini emah gila. Jennifer Venditti patut dapat penghargaan buat nemuin campuran aktor profesional dan non-aktor yang absurd tapi klop.
Cara Menonton Marty Supreme: Panduan Praktis
Nah, ini bagian yang paling penting. Karena film Safdie itu beda. Lo nggak bisa nonton sambil ngemil terus tiba-tiba buka Instagram. Nggak bakal nyambung.
1. Dateng dengan Ekspektasi Kosong
Ini saran pertama gue. Jangan baca sinopsis terlalu detail. Jangan tonton semua interview. Dateng aja ke bioskop dengan kepala kosong.
Kenapa? Karena kejutan itu bagian dari pengalaman. Lo bakal lebih ngerasain “kekacauan” Safdie kalau nggak tahu apa yang bakal terjadi.
2. Siap-Siap Secara Mental
Ini bukan film santai Minggu pagi. Durasi 2,5 jam, dialog padat, energi nggak pernah turun. Beberapa orang yang gue ajak ngobrol bilang mereka “lelah” abis nonton. Tapi lelah dalam artian puas.
Kalau lo tipikal orang yang gampang overwhelmed, mungkin siapin cemilan. Atau pipis dulu sebelum masuk. Karena percaya deh, lo nggak bakal mau ninggalin bioskop di tengah film.
3. Fokus ke Wajah Chalamet
Ini tips dari gue pribadi. Timothée Chalamet di sini beda banget dari peran-peran sebelumnya. Bukan Paul Atreides yang kalem. Bukan Wonka yang ceria. Ini Chalamet yang… liar.
Perhatikan ekspresi wajahnya di momen-momen kecil. Pas dia lagi ngejalanin skenario bodoh yang dia buat sendiri. Pas dia ketemu karakter Gwyneth Paltrow. Pas dia main pingpong dengan mata melotot. Karena di situ letak keajaibannya.
4. Nonton Bareng Temen (Terus Diskusi)
Film ini lebih seru kalau abis nonton lo bisa ngobrol. Karena banyak hal yang nggak langsung nyambung di first viewing. Gue sendiri abis nonton pertama, langsung chat temen gue yang udah nonton seminggu sebelumnya. Kita diskusi sampe jam 2 pagi.
Tema-tema kayak ambisi, identitas Yahudi, harga dari kesuksesan—itu semua nggak disajikan dengan gamblang. Lo harus nyari sendiri. Dan diskusi itu yang bikin film ini makin bernilai.
5. Siapin Ulang (Karena Lo Bakal Nonton Lagi)
Ini bukan sombong. Tapi banyak orang—termasuk gue—yang akhirnya nonton dua kali. Karena pas pertama nonton, kita terlalu sibuk “mengikuti” cerita. Pas kedua kali, kita bisa mulai lihat detail-detail kecil yang terlewat.
Misalnya, gue baru sadar pas kedua kali bahwa karakter Fran Drescher (yang main sebagai ibu Marty yang hipokondriak) punya momen-momen kecil yang ngasih petunjuk tentang masa lalu Marty. Atau dialog-dialog tertentu yang baru masuk akal setelah lo tahu endingnya.
Hal-Hal yang Mungkin Bikin Lo Kecewa (Common Mistakes)
Biarpun gue suka banget sama film ini, gue juga harus jujur. Nggak semua orang bakal suka. Dan itu nggak apa-apa.
1. “Ini Film Biopik Kok Ngaco?”
Banyak yang kecewa karena expecting biografi akurat Marty Reisman. Padahal, Safdie dari awal bilang ini cuma “terinspirasi”. Karakternya beda, kronologinya diacak, bahkan endingnya pun fiksi.
Kritikus Vigh Martin bilang, “Siapa yang nonton ini sebagai film biografi, bakal kecewa besar. Karena Safdie sengaja ngelewatkan elemen-elemen wajib kayak eksposisi, pembangunan karakter, pengenalan dilema” . Jadi, kalau lo pengen dokumenter, ini salah alamat.
2. “Terlalu Panjang dan Berisik!”
Durasi 2,5 jam. Musik terus bunyi. Orang-orang teriak-teriak. Plot muter-muter. Buat sebagian orang, ini bisa exhausting banget.
Gue paham kok. Temen gue yang nonton bilang, “Gue kayak habis lari maraton.” Tapi buat gue, itu justru tujuannya. Safdie pengen lo ngerasain gimana rasanya jadi Marty: terus-terusan dikejar, nggak pernah tenang.
3. “Subplot Gwyneth Paltrow Nggak Jelas”
Ini kritik yang cukup sering gue denger. Hubungan Marty sama karakter Kay (Paltrow) terasa kurang dieksplorasi. Ada potensi drama yang bagus, tapi kayaknya dipotong setengah jalan.
Gue setuju sih. Mungkin karena filmnya udah kebanyakan material, jadi subplot ini agak terlantar. Tapi untungnya, Paltrow tetap shining di setiap scene dia muncul. Jadi meskipun kurang dieksplorasi, performanya tetep memorable.
4. “Terlalu Safdie-stan?”
Ada juga yang bilang film ini terlalu “Safdie” banget—teriak-teriak, kamera shaky, karakter nggak jelas. Buat yang nggak familiar dengan gaya mereka, ini bisa terasa berlebihan.
Tapi gue pikir, itu yang bikin Safdie istimewa. Mereka punya signature yang kuat. Lo bisa tahu ini film Safdie bahkan tanpa lihat credit title.
Kenapa Lo Harus Nonton di Bioskop (Bukan Bajakan)
Gue tahu banyak orang sekarang milih streaming atau… yaudah. Tapi untuk film ini, wajib bioskop.
Kenapa?
Pertama, sound system. Musik Daniel Lopatin itu dirancang buat ngebass. Di bioskop, lo bakal ngerasa getaran di kursi. Di laptop? Hampa.
Kedua, layar gede. Sinematografi Darius Khondji itu detail banget. Adegan pingpong-nya aja direkam dengan kamera film 35mm. Sayang kalau cuma dilihat di layar 14 inci.
Ketiga, pengalaman kolektif. Ada adegan-adegan di mana seluruh bioskop tertawa, atau diem serentak, atau—seperti adegan hutan tadi—nggak ada yang berani napas. Itu nggak bisa lo dapet kalau nonton sendirian di kamar.
Dan keempat, support industri. Film kayak gini jarang masuk Indo. Apalagi tayang serempak 25 Februari . Kalau kita nonton, distributor bakal lebih percaya diri buat bawa film-film berkualitas lain ke sini.
Jadi, Layak Nonton?
Gue bakal jujur.
Marty Supreme bukan film buat semua orang. Kalau lo suka film Marvel yang rapi dan predictable, mungkin ini bakal bikin lo pusing. Tapi kalau lo terbuka sama pengalaman baru, sama sinema yang berani ambil risiko, sama cerita yang nggak manis-manis amat—ini film yang harus lo tonton.
Ini film tentang ambisi yang nggak pernah terpuaskan. Tentang harga yang harus dibayar buat mimpi. Tentang orang-orang yang nggak pernah puas dengan apa yang mereka punya. Tentang generasi muda yang percaya diri setengah mati padahal belum apa-apa.
Dan di tengah semua kekacauan itu, ada momen-moten kecil yang manusiawi banget. Ada kehangatan. Ada air mata. Ada pengakuan bahwa mungkin—hanya mungkin—kita semua salah dalam mengejar sesuatu.
Gue nonton film ini dua minggu lalu. Sampai sekarang, masih kepikiran. Masih muncul di mimpi. Masih bikin gue mikir: “Apa yang sebenernya gue kejar dalam hidup?”
Kalau film bisa bikin lo bertanya begitu, itu udah cukup, kan?
Info Penting Sebelum Nonton
Judul: Marty Supreme
Sutradara: Josh Safdie
Pemain: Timothée Chalamet, Gwyneth Paltrow, Tyler the Creator, Odessa A’zion, Kevin O’Leary, Fran Drescher
Durasi: 149 menit
Rating Usia: 17+ (karena konten dewasa)
Jadwal Tayang di Indonesia: 25 Februari 2026
Distributor: KlikFilm
Gue rencana nonton lagi pas hari pertama tayang. Mungkin ketemu di bioskop? Atau kalau udah nonton, share pendapat lo di kolom komentar. Gue penasaran, apakah lo ngerasain hal yang sama atau malah sebel setengah mati. Karena kayaknya, nggak ada tanggapan yang salah buat film ini.
